Postingan

Agrowisata Bukan Jawaban untuk Mengatasi Stagnasi

Gambar
Membuka tulisan ini dengan kalimat “Indonesia adalah negara agraris” agaknya kurang relevan, mengingat merosotnya minat menggeluti profesi petani pada generasi sekarang atau bahkan mendatang. Di keadaan perekonomian negara yang kacau, nilai mata uang nyaris hancur, dan harga barang-barang kebutuhan yang terus meroket setiap tahun, penghasilan petani tak lagi menjamin kehidupan yang layak, apalagi jika ia buruh tani. Seolah-olah, negara tak pernah menyentuh substansi dari persoalan yang telah bercokol dari rezim ke rezim, atau memang sengaja tak menghiraukannya. Namun, ketidaklayakan taraf hidup ini dikecualikan bagi para tengkulak yang memonopoli harga pasar, maupun para tuan tanah yang memonopoli ruang produksi dengan kepemilikan lahan melampaui batas yang telah ditentukan; yang mestinya ketetapan tersebut merujuk dengan benar pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Akibat kurangnya regenerasi, saat ini sektor pertanian di Indonesia didomin...

Kebudayaan Tak Memerlukan Filantropis

Gambar
Pada 31 Agustus 2026, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan pidato yang cukup panjang lebar dalam Malam Anugerah Pemenang Lomba Konten Video Kreatif “Aku dan Budayaku” di Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Dalam sambutannya, ia memaparkan harapannya untuk mendorong industrialisasi budaya nasional agar kebudayaan dapat menjadi sumber ekonomi dan tidak lagi dianggap sebagai beban. Namun, ada celah retorika yang patut dikritisi dari pernyataan pejabat tersebut. Sang Menteri secara terang-terangan membuka peluang kolaborasi dengan pihak swasta, korporasi, dan filantropis. Dari sini, kita bisa melihat sebuah inkonsistensi yang nyata. Di satu sisi, pemerintah ingin membuktikan bahwa kebudayaan bukanlah beban, tetapi di sisi lain, pernyataan bahwa kementerian atau representasi kebudayaan kita masih membutuhkan uluran tangan filantropis, atau para dermawan yang bersedia menjadi donatur, justru mengonfirmasi ketidakmandirian tersebut. Di era kapitalisme, tidak ada pemberian yang benar-bena...

Spiritualitas yang Hampa tanpa Polemik Sastra

Gambar
Beberapa waktu lalu beredar sebuah unggahan instagram dengan tulisan “Generasi Terburuk Sastra Indonesia”. Setelah ditelusuri, frasa tersebut ternyata merupakan penggalan dari sebuah manifesto yang ditulis oleh salah seorang anasir anarkis. Kemudian timbul satu pertanyaan, “Memangnya anarkisme punya tradisi sastra?”. Konon, sastra telah memberikan kontribusi besar pada anarkisme sebagai filsafat dan praktik politik (James Gifford, 2019) . Berangkat dari premis tersebut, sastra dalam khazanah gerakan anarkis tak pernah menjadi pokok penting kecuali dipergunakan dalam slogan-slogan reaksioner. Merujuk suatu klaim bahwa banyak pengarang yang mengintegrasikan pemikiran anarkisme terhadap karya sastra, namun sesungguhnya para pengarang tersebut bukanlah individu yang terlibat aktif dalam gerakan anarkisme, boleh dikatakan sebenarnya yang terjadi adalah simplifikasi tafsir oleh kaum anarkis bahwa terdapat keserupaan ideologis. Salah satu korban klaim ini adalah Arundhati Roy, yang padahal ...

The Power of Pop Culture

Gambar
Beberapa waktu lalu terjadi peristiwa di Indonesia yang dapat diklasifikasikan sebagai fenomena sosial, ketika banyak individu secara masif, terutama kawula muda, melakukan aksi pengibaran bendera dengan berbagai simbol yang diadaptasi dari salah satu tayangan anime Jepang yang bertema tentang dunia bajak laut berjudul  One Piece . Fenomena ini bukan sekedar urusan selera hiburan, tetapi juga gambaran dari bagaimana simbol budaya populer mampu menjadi bahasa protes yang mudah dipahami lintas generasi. Di dalam anime tersebut terdapat istilah  Jolly Roger  yang merujuk sebutan terhadap bendera yang dikibarkan oleh kapal bajak laut. Pengibaran bendera ini ditengarai sebagai ekspresi kekecewaan terhadap jalannya sistem pemerintahan. Korupsi yang masih meluas, praktik jual beli jabatan, ketimpangan ekonomi, minimnya lapangan kerja, hingga perampasan ruang hidup dan kerusakan lingkungan menjadi latar yang mendorong simbol fiksi tersebut tampil di ruang publik. Meski sejak lama...

Pertautan Antara Papa dan Buendía

Gambar
Photo : netflix.com Terlambat 100 tahun bagi saya untuk membaca Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel García Márquez. Setelah beberapa bulan tertunda akibat reading slump , saya akhirnya menamatkannya. Karya ini membawa saya pada perjalanan panjang keluarga Buendía, yang melintasi waktu dari keturunan ke keturunan, masing-masing terjebak dalam kesialan yang tampak seperti kutukan garis keturunan. Namun, saya tak ingin berlarut menjelaskan pengalaman saya menelaah karya Gabo yang fenomenal itu, yang kini telah diadaptasi ke dalam bentuk series sinema di platform berbayar kapitalis. Saya bukan pembaca yang mendalami setiap detail karya sastra; saya lebih suka mengikuti alur dan mengamati bagaimana karakter menjalani peran mereka. Namun, kisah Buendía, terutama sosok José Arcadio Buendía, membuka mata saya untuk memahami Papa — sosok yang kini telah tiada — dan kesunyian yang ia tanggung, yang kini saya rasakan pula. Saya adalah orang biasa yang kadang ingin tampak berbeda, terutama dalam...

Pramoedya di Antara Kapital Simbolik dan Komidifikasi Budaya

Gambar
Photo by me Beberapa waktu lalu, saya tertarik pada sebuah buku yang dipromosikan di akun media sosial salah satu toko buku indie di Yogyakarta. Bertajuk Babad Blora & Tiga Cerita Legenda . Saya cukup terkesan, karena jarang menemukan karya berlatar daerah kelahiran saya , Blora, sebuah kabupaten di ujung timur Jawa Tengah. Dari postingan itu, saya langsung mengenali nama penyusunnya: Koesalah Toer dan Soesilo Toer. Tanpa perlu membaca caption secara saksama, saya sudah yakin buku itu diterbitkan oleh Pataba Press, usaha penerbitan milik Soesilo Toer, penulis sekaligus anak bungsu keluarga Pak Mastoer. Tajuk tersebut yang menyematkan istilah “Babad Blora” masih menjadi ketertarikan bagi saya yang cukup doyan sejarah Blora. Ketertarikan itu mendorong saya untuk segera memiliki bukunya. Meski mudah ditemukan di berbagai toko online, karena tak sabar, saya akhirnya membelinya langsung di toko buku terdekat beberapa hari kemudian. Begitu buku itu ada di tangan saya, saya langsung mempe...

Menjadi Khidir di Era Tansformasi

Gambar
Umat islam Indonesia tidak asing dengan nama ini, banyak dari mereka mendengarnya dari cerita atau dongeng yang dituturkan oleh para guru ngaji, bahwa ada seorang nabi yang tidak masuk dalam daftar nama 25 nabi yang wajib diketahui. Hanya sedikit riwayat yang mengisahkannya, itu pun setahu saya tidak disebutkan secara jelas bahwa ia seseorang yang bergelar nabi dan bernama Khidir. Kabarnya Khidir hanyalah julukan yang disematkan kepadanya karena ia berpakaian serba hijau. Dalam penggalan ayat dari suatu surat di kitab suci umat islam menyebutkan bahwa ia adalah hamba Tuhan yang bijaksana, tentang Musa yang berguru kepadanya, yang mendapati semacam perilaku absurd yang dilakukan oleh sang bijaksana itu namun kemudian mampu meluluhkan hati Musa. Menurut penuturan kisah lokal yang tidak dapat dipercayai kredibilitasnya, Khidir selalu mengembara sepanjang hidupnya dalam keabadian, konon ia telah meminum suatu air ajaib yang kemudian mengakibatkan ia tak bisa tua atau moksa seperti Isa. Kab...

Tanah, Hutan dan Kesenian : Sebuah Upaya Mengamati Barongan Blora Secara Wadak

Gambar
“Kebudayaan adalah hasil keseluruhan dayaupaya manusia secara sadar memenuhi, setinggi-tingginya kebutuhan hidup lahir dan batin, senantiasa maju dan tiada putus-putusnya.” –Mukaddimah LEKRA 1950 Dalam upaya menggali epistimologi tanah, banyak sumber yang dapat diperoleh, mulai dari yang merujuk pada Ilmu Hukum, Geografi, Teologi bahkan sampai dengan perspektif adat bercampur mitos yang tidak logis, yang kebanyakan memandang hubungan tanah dan manusia layaknya ibu yang menghidupi anak-anaknya. Memahami konsepsi tanah juga tidak sesederhana yang dapat dijelaskan sebagai media tumbuhnya tanaman atau sebagai laboratorium kimia. Lebih dari itu, dapat ditegaskan bahwa tanah tidak sekedar benda padat yang kerap dieksploitasi secara berlebih oleh klas penguasa modal. Tanah merupakan salah satu bagian dari basis ekonomi dalam perspektif Marx, berkaitan erat dengan konsep materialisme historis dan dialektis Karl Marx. Menurut Marx, basis ekonomi (termasuk tanah) menentukan struktur sosial dan...

Mentalitas Yang Terkonstruk di Era Kapitalisme Digital

Gambar
Secara tidak langsung kapitalisme digital dapat dikatakan sebagai tahap lanjut dari modus produksi kapitalisme modern yang paling aktual, yang rupanya saling memengaruhi dan menyesuaikan dengan minat manusia, terhadap budaya yang memiliki esensi universalitas turut berkembang seiring zaman. Kemudahan komunikasi dan penyebaran informasi secara cepat pada hari ini menjadi sumber komoditas yang paling mutakhir bagi kapitalisme, sementara manusia yang menjadi mangsa pasar produk-produk sarana digital seperti ponsel pintar dengan segala muatan di dalamnya, jika kita tidak bijak dalam menggunakannya samahalnya dapat di ibaratkan seperti menggenggam sebuah geranat, dimana kita sadar bahwa kapan saja mampu menimbulkan kerusakan terhadap diri kita jika tidak berhati-hati dan mawas diri. Sebagai sarana yang memudahkan, sekaligus kita mampu dilalaikan oleh akses yang serba instan dan tersediakan. Kapitalisme modern sebagai kontradiksi pokok sejak awal abad-19 memang tidak pernah gagal menciptakan...

Komidi Putar

Gambar
Aku tengah berjalan santai ketika matahari senja memberi kesan pada langit menjelang malam. Di gang kecil yang bising, di depan warung penjual tuak aku mencari botol sisa minumku semalam. Sementara meja dan kursi yang tak teratur menjadi tempat duduk para pemabuk setiap malam hingga pagi buta. Tanpa sengaja kepalaku terbentur meja ketika menunduk—membuatku tersentak. Ketika aku bangkit sembari memegang bagian belakang kepalaku yang terasa nyeri, seseorang telah berada di hadapanku, dia si penjaga warung tuak ini. Si penjaga warung tuak bukanlah kawanku, namun kita saling akrab karena sekiranya dalam dua hari sekali aku datang ke sini. Dia menyapaku dengan wajah menyeringai, terlihat lingkaran hitam di sekitar matanya yang mengerikan, menandakan dia jarang tidur malam. “Apa yang kau cari?” “Minumanku semalam!” “Aku buanglah sudah.” Katanya. “Oalah, baik.” Jawabku. Kemudian aku melanjutkan berjalan dengan santai, ke arah alun-alun—aku baru mengingat malam ini adalah Sabtu malam...