Spiritualitas yang Hampa tanpa Polemik Sastra

Beberapa waktu lalu beredar sebuah unggahan instagram dengan tulisan “Generasi Terburuk Sastra Indonesia”. Setelah ditelusuri, frasa tersebut ternyata merupakan penggalan dari sebuah manifesto yang ditulis oleh salah seorang anasir anarkis. Kemudian timbul satu pertanyaan, “Memangnya anarkisme punya tradisi sastra?”.

Konon, sastra telah memberikan kontribusi besar pada anarkisme sebagai filsafat dan praktik politik (James Gifford, 2019). Berangkat dari premis tersebut, sastra dalam khazanah gerakan anarkis tak pernah menjadi pokok penting kecuali dipergunakan dalam slogan-slogan reaksioner. Merujuk suatu klaim bahwa banyak pengarang yang mengintegrasikan pemikiran anarkisme terhadap karya sastra, namun sesungguhnya para pengarang tersebut bukanlah individu yang terlibat aktif dalam gerakan anarkisme, boleh dikatakan sebenarnya yang terjadi adalah simplifikasi tafsir oleh kaum anarkis bahwa terdapat keserupaan ideologis. Salah satu korban klaim ini adalah Arundhati Roy, yang padahal di salah satu karyanya mengisyaratkan kedekatannya dengan kaum komunis-maois. Jadi, memang para anarkis banyak dipengaruhi para pengarang tersebut, namun tidak saling memengaruhi, atau dapat dikatakan tidak mempunyai kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan sastra dunia.

Namun, dapat dikatakan bahwa cetusan “Generasi Terburuk Sastra Indonesia” cukup cemerlang dan memperoleh relevansinya terkait dengan absennya polemik sastra selama lebih dari satu dekade. Terakhir, kita bisa mendengar dan menyaksikan polemik sastra adalah peristiwa Geger Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, di akhir tahun 2013 hingga buku tersebut terbit pada awal 2014. Bahkan hingga pihak yang kontra atas peluncuran buku tersebut terkena imbas kriminalisasi (Katrin Bandel, 2014). Setelahnya, sampai pada hari ini tidak pernah ada pengarang atau sastrawan yang berpolemik, dalam skala daerah apalagi nasional, barangkali hanya perdebatan kecil di teras-teras indekos atau warung kopi, itu pun masih membahas pro dan kontra peristiwa masa lampau, polemik-polemik yang pernah terjadi, tak ada ide pembaharu.

Mengapa Polemik Sastra Begitu Penting?

Melalui polemik, berbagai pandangan tentang fungsi, bentuk, nilai estetika, maupun posisi sastra dalam pergaulan hidup dipertemukan untuk diuji secara argumentatif. Proses tersebut memungkinkan lahirnya pemikiran-pemikiran baru yang mendorong perubahan paradigma serta pembaruan dalam praktik kesusasteraan. Dengan kata lain, polemik tidak hanya mencerminkan adanya perbedaan pandangan di antara para pelaku sastra, tetapi juga menunjukkan bahwa tradisi sastra terus bergerak dan berkembang melalui dialog yang kritis. Oleh sebab itu, keberadaan polemik dapat dipahami dan dimaksudkan sebagai indikator idealnya kehidupan sastra, karena memperlihatkan bahwa karya, gagasan, dan nilai-nilai kesusasteraan senantiasa terbuka untuk diperdebatkan, dievaluasi, dan dikembangkan sesuai dengan dinamika suatu era.

Secara ilmiah, polemik sastra dapat diartikan sebagai diskursus dialektis dan konfrontatif antar-agen kultural (sastrawan, kritikus, institusi) di dalam suatu medan sastra (literary field) guna memperebutkan legitimasi estetik, hegemoni ideologis, serta otoritas pemaknaan terhadap teks. Polemik bukanlah sekadar perbedaan selera pembacaan, melainkan manifestasi dari konflik struktural. Bourdieu menegaskan secara definitif, “The literary (etc.) field is a force-field acting on all those who enter it, and acting in a differential manner according to the position they  occupy there (whether, to take the points furthest removed from each  other, that of a writer of hit plays or that of an avant-garde poet), and at the same time it is a field of competitive struggles which tend to conserve or transform this force-field” (Pierre Bourdieu, 2006).

Singkatnya, polemik sastra merupakan mekanisme struktural yang esensial bagi evolusi kesusasteraan, bukan sekadar perselisihan selera subjektif, bukan sekadar pertikaian mana pihak dengan gagasan yang lebih baik, yang paling ideal.

Aspek Spiritualitas dalam Kesusasetraan

Sebagian manusia barangkali mengira bahwa spiritualitas itu hanya perkara yang menyangkut tentang agama, keyakinan, bahkan metafisik. Spiritual pada dasarnya bukan sesuatu yang formal, terstruktur, dan terorganisir selayaknya agama, melainkan lebih daripada itu. Spiritualitas berasal dari kata ‘spiritus’ yang artinya adalah napas kehidupan. Spirit merupakan kekuatan yang tidak terlihat yang memberikan napas bagi kehidupan, dan memberikan energi bagi yang menghendakinya (Pasha Nandaka & Clara Moningka, 2018).

Dalam kesusasteraan, energi atau dapat dikatakan dorongan tersebut dapat diperoleh dari daya imajiner manusia yang telah mengolah bahan bacaan atau dalam proses mengarang sebuah karya sastra. Apabila tubuh jasmani memiliki sumber energi dari pangan, jika akal mampu bekerja optimal melalui dorongan ilmu pengetahuan, maka energi yang dihasilkan oleh daya imajiner dapat menjadi bahan bakar pada batin untuk mencapai kelengkapan suatu kehendak.

Aspek spiritualitas sastra dapat digambarkan seperti ini: Apabila seseorang sepanjang karirnya diupah dengan murah oleh kuasa borjuis yang lalim, tidak memiliki akses terhadap bacaan-bacaan ilmiah yang terang membahas tentang antitesis apa yang tengah dialaminya, dan terkadang terlalu berkeberatan membaca hal-hal semacam itu. Namun seseorang tak memiliki penghalang dan ringan apabila membaca karya-karya semacam novel, komik atau bahkan menonton film, dalam kegiatan mencari penghiburan. Barangkali di salah satu karya tersebut ada yang secara tersirat mengisahkan seseorang atau kaum yang tertindas oleh seorang jahat, maka kisah tersebut dapat diilhaminya sebagai dasar perlawanan, kemudian timbulah kesadaran. Bahwa kesadaran dapat menjadi cikal-bakal daripada niat, lalu tindakan.

Menurut Pramoedya Ananta Toer, “Kesusasteraan disamping itu, dan kebudayaan pada umumnya, melaksanakan kebangunan dari bahan-bahan batin, bahan-bahan kejiwaan, dan akibatnya membangun dari dalam, dari alam keyakinan, dari suatu harapan pada hari depan yang gemilang” (Pramoedya Ananta Toer, 1955). Menunjukkan bahwa kesusasteraan bekerja melalui wilayah yang tidak selalu dapat disentuh oleh argumentasi rasional semata. Ia bergerak di ruang batin, memengaruhi cara seseorang memandang diri, orang lain, dan sekitarnya. Apa yang kemudian disebut sebagai kesadaran, pada hakikatnya tidak lahir dari ruang yang hampa. Kesadaran memerlukan suatu daya yang menggerakkan manusia untuk melampaui keadaan dirinya yang sekarang. Daya tersebut tidak selalu hadir dalam bentuk pengetahuan yang sistematis, tetapi dapat tumbuh dari pengalaman estetik ketika seseorang bersentuhan dengan karya sastra. Di titik inilah sastra bekerja dalam aspek spiritualitas; ia membangunkan apa yang sebelumnya tertidur, menghidupkan apa yang sebelumnya mati rasa.

Kesadaran yang lahir dari proses tersebut bukan lagi sekadar pengetahuan mengenai kebenaran dan kekeliruan, melainkan dorongan batin untuk menentukan kehendak. Dalam pengertian ini, spiritualitas sastra adalah kemampuan karya sastra untuk menggerakkan manusia dari keadaan pasif menuju kesadaran yang aktif.

Selanjutnya, mengutip kembali Pramoedya Ananta Toer, “Kesusasteraanlah yang kuasa yang menambal jiwa yang telah compang-camping oleh masa panjang yang tidak produktif. Ia pulalah yang menghidupkan kembali jiwa-jiwa yang mati terbunuh oleh libatan etiket-etiket hampa. Ia merupakan cara yang membongkar lubuk-lubuk borok menahun dalam jiwa manusia. Kesusasteraan memulihkan manusia dalam keadaan mula kembali” (Pramoedya Ananta Toer, 1955). Dalam hal ini, aspek spiritualitas dalam kesusasteraan dan spiritualitas pada umumnya bukan sekadar perkara hubungan manusia dengan sesuatu yang transenden, tetapi juga ihwal kemampuan manusia untuk tetap memelihara kemanusiaannya di tengah keadaan yang terus berupaya mengasingkannya dari dirinya sendiri. Sebab, manusia yang kehilangan kemampuan untuk merasakan pada hakikatnya juga perlahan kehilangan kemampuan untuk memahami penderitaan, sementara hilangnya pemahaman terhadap penderitaan adalah awal dari matinya kepekaan.

Penutup

Namun, pengalaman estetik yang melahirkan kesadaran bukanlah proses yang berhenti ketika sebuah karya selesai dibaca. Kesadaran justru memperoleh bentuknya ketika gagasan-gagasan yang dibawa karya tersebut dipertemukan dengan pembacaan lain, dipersoalkan, diperdebatkan, bahkan disangkal. Dengan demikian, spiritualitas sastra tidak hanya bekerja di ruang batin pembaca, tetapi juga dalam ruang publik tempat berbagai tafsir saling berhadapan.

Sebab spiritualitas sastra tidak lahir semata-mata dari keberadaan karya, melainkan juga dialektika wacana yang mengelilinginya. Karya sastra memang mampu membangunkan kesadaran batin, tetapi kesadaran tersebut tidak akan terus berkembang apabila medan sastra kehilangan ruang dialog, kritik, dan pertentangan gagasan. Di sinilah polemik memperoleh maknanya. Polemik bukan sekadar perselisihan antar-pengarang, melainkan proses yang terus menguji nilai, memperbarui horizon berpikir, dan mencegah sastra terjebak menjadi sekadar konsumsi estetis.

Apabila ketiadaan polemik telah menjadi keadaan yang lumrah, sastra berisiko kehilangan fungsi reflektifnya. Spiritualitas yang semestinya membangkitkan keberanian, kepekaan, dan kesadaran perlahan berubah menjadi pengalaman batin yang tidak lagi menggugah. Sastra masih dibaca, masih diproduksi, masih dikonsumsi, tetapi tak lagi memiliki kemampuan untuk mengguncang cara berpikir generasi kita. Spiritualitas yang demikian pada akhirnya menjadi spiritualitas yang hampa: ia memberi kenikmatan, bahkan ketenteraman, tetapi tidak melahirkan kehendak yang berarti; memberi penghiburan, tetapi tidak menghasilkan pembaharuan.

Karena itu, ketiadaan polemik selama lebih dari satu dekade bukan sekadar menandai kemunduran di dalam pergaulan sastra Indonesia, melainkan juga mengisyaratkan melemahnya daya spiritual yang selama ini menjadikan sastra sebagai ruang pembentukan kesadaran. Kesusasteraan yang ideal hanya dapat terus hidup apabila keberanian untuk berdebat, mengkritik, dan mempertaruhkan gagasan tetap dipelihara. Tanpa polemik, spiritualitas sastra kehilangan napas berapinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bunga Rampas

Komidi Putar

Siran, Sekali Upaya Penghabisan

Sastra dan Korelasinya Terhadap Situasi Sosial