Jumat petang, aku mendengar kabar bahwa Rosalisa akan kawin dengan seorang yang dijodohkan oleh keluarganya. Lakinya seorang yang aku kenal, kakak kelas ketika kami sama-sama masih menempuh pendidikan sekolah menengah atas. Kabarnya pula ia seorang direktur yang masih menjabat di pabrik semen yang beroperasi di kota D. Kalau soal apa pekerjaannya aku sudah tahu sejak lama, sebab dalam sekali peristiwa kita pernah berjumpa. Dalam proses mediasi yang dilakukan di salah satu lembaga hukum swasta, oleh perkara operasi dari pabrik tersebut yang sudah banyak memberi dampak buruk terhadap masyarakat sekitarnya. Aku sedikit banyak dilibatkan dalam proses penolakan terhadap pabrik semen tersebut, bahkan sejak belum didirikan. Sadin, orang memanggilnya dengan tambahan sapaan “Pak”, jika menyoal struktur jabatan, namun tidak perlu untuk orang biasa sepertiku yang tak memiliki hubungan hierarkis dengannya. Sadin orang yang paling getol membantah bahwa pabrik semen telah membawa dampak buruk, ia se...
Aku tengah berjalan santai ketika matahari senja memberi kesan pada langit menjelang malam. Di gang kecil yang bising, di depan warung penjual tuak aku mencari botol sisa minumku semalam. Sementara meja dan kursi yang tak teratur menjadi tempat duduk para pemabuk setiap malam hingga pagi buta. Tanpa sengaja kepalaku terbentur meja ketika menunduk—membuatku tersentak. Ketika aku bangkit sembari memegang bagian belakang kepalaku yang terasa nyeri, seseorang telah berada di hadapanku, dia si penjaga warung tuak ini. Si penjaga warung tuak bukanlah kawanku, namun kita saling akrab karena sekiranya dalam dua hari sekali aku datang ke sini. Dia menyapaku dengan wajah menyeringai, terlihat lingkaran hitam di sekitar matanya yang mengerikan, menandakan dia jarang tidur malam. “Apa yang kau cari?” “Minumanku semalam!” “Aku buanglah sudah.” Katanya. “Oalah, baik.” Jawabku. Kemudian aku melanjutkan berjalan dengan santai, ke arah alun-alun—aku baru mengingat malam ini adalah Sabtu malam...
Hari itu cuaca tak cukup cerah, gumpalan awan dengan sedikit corak kehitaman membalut birunya langit. Angin bertiup cukup santer, dan tak berselang lama air berjatuhan dari angkasa. Satu demi satu, perlahan dan semakin deras. Seorang lelaki tengah berlari dari dalam rumahnya, dia menghampiri hujan. Suara guruh bersahutan, kilatan-kilatan cahaya, bergemuruh seperti sedang terjadi perkelahian hebat di atas sana. Lelaki itu bergelagat aneh, dia berdiam diri di tengah hujan, sementara pandangannya tertuju ke langit. Matanya yang sayu memiliki banyak kerutan di kelopaknya, menjadi setengah terpejam. Dia tersenyum, mengisyaratkan bahwa dirinya tidak takut meski suara guntur kian berseliweran. Setelah genap satu jam dia bertahan dengan posisi yang sama, sekonyong-konyong dia berjalan tak tentu arah. Sekujur badannya basah, dan dia sendiri terlihat menggigil, dengan mulut terkatup. Tak ada seorang lain di sana, hanya dia sendiri. Memang di lingkungannya ketika hujan datang, orang cenderung b...
Di dalam kehidupan dunia ini kita tak dapat menafikan bahwa hubungan antara manusia dengan manusia lain merupakan suatu kebutuhan, dari skala perseorangan hingga merumpun menjadi suatu hubungan kemasyarakatan. Bahkan jika kesemuanya dapat dikategorikan satu-persatu akan cukup banyak ragamnya perkara saling hubungan tersebut. Atas dasar kebutuhan, manusia menjalankan norma-norma hidup dari yang secara tertulis maupun sekedar di benak keyakinan. Terhadap hubungan yang terjalin antar individu, suatu hubungan dapat disebut sebagai hubungan sosial. Hubungan sosial ditekankan terhadap kegiatan interaksi antara manusianya dengan kontak sosial maupun komunikasi. Hubungan sosial digolongkan menjadi dua bentuk, di antaranya adalah hubungan sosial asosiatif dan hubungan sosial disosiatif. Untuk hubungan sosial asosiatif di dalamnya meliputi kerja sama, akomodasi, dan akulturasi dengan sifatnya yang positif dan menguntungkan ke dua belah pihak. Sementara hubungan sosial disosiatif dapat dikatakan ...
Komentar
Posting Komentar