Postingan

Pramoedya di Antara Kapital Simbolik dan Komidifikasi Budaya

Gambar
Photo by me Beberapa waktu lalu, saya tertarik pada sebuah buku yang dipromosikan di akun media sosial salah satu toko buku indie di Yogyakarta. Bertajuk Babad Blora & Tiga Cerita Legenda . Saya cukup terkesan, karena jarang menemukan karya berlatar daerah kelahiran saya , Blora, sebuah kabupaten di ujung timur Jawa Tengah. Dari postingan itu, saya langsung mengenali nama penyusunnya: Koesalah Toer dan Soesilo Toer. Tanpa perlu membaca caption secara saksama, saya sudah yakin buku itu diterbitkan oleh Pataba Press, usaha penerbitan milik Soesilo Toer, penulis sekaligus anak bungsu keluarga Pak Mastoer. Tajuk tersebut yang menyematkan istilah “Babad Blora” masih menjadi ketertarikan bagi saya yang cukup doyan sejarah Blora. Ketertarikan itu mendorong saya untuk segera memiliki bukunya. Meski mudah ditemukan di berbagai toko online, karena tak sabar, saya akhirnya membelinya langsung di toko buku terdekat beberapa hari kemudian. Begitu buku itu ada di tangan saya, saya langsung mempe...

Menjadi Khidir di Era Tansformasi

Gambar
Umat islam Indonesia tidak asing dengan nama ini, banyak dari mereka mendengarnya dari cerita atau dongeng yang dituturkan oleh para guru ngaji, bahwa ada seorang nabi yang tidak masuk dalam daftar nama 25 nabi yang wajib diketahui. Hanya sedikit riwayat yang mengisahkannya, itu pun setahu saya tidak disebutkan secara jelas bahwa ia seseorang yang bergelar nabi dan bernama Khidir. Kabarnya Khidir hanyalah julukan yang disematkan kepadanya karena ia berpakaian serba hijau. Dalam penggalan ayat dari suatu surat di kitab suci umat islam menyebutkan bahwa ia adalah hamba Tuhan yang bijaksana, tentang Musa yang berguru kepadanya, yang mendapati semacam perilaku absurd yang dilakukan oleh sang bijaksana itu namun kemudian mampu meluluhkan hati Musa. Menurut penuturan kisah lokal yang tidak dapat dipercayai kredibilitasnya, Khidir selalu mengembara sepanjang hidupnya dalam keabadian, konon ia telah meminum suatu air ajaib yang kemudian mengakibatkan ia tak bisa tua atau moksa seperti Isa. Kab...

Tanah, Hutan dan Kesenian : Sebuah Upaya Mengamati Barongan Blora Secara Wadak

Gambar
“Kebudayaan adalah hasil keseluruhan dayaupaya manusia secara sadar memenuhi, setinggi-tingginya kebutuhan hidup lahir dan batin, senantiasa maju dan tiada putus-putusnya.” –Mukaddimah LEKRA 1950 Dalam upaya menggali epistimologi tanah, banyak sumber yang dapat diperoleh, mulai dari yang merujuk pada Ilmu Hukum, Geografi, Teologi bahkan sampai dengan perspektif adat bercampur mitos yang tidak logis, yang kebanyakan memandang hubungan tanah dan manusia layaknya ibu yang menghidupi anak-anaknya. Memahami konsepsi tanah juga tidak sesederhana yang dapat dijelaskan sebagai media tumbuhnya tanaman atau sebagai laboratorium kimia. Lebih dari itu, dapat ditegaskan bahwa tanah tidak sekedar benda padat yang kerap dieksploitasi secara berlebih oleh klas penguasa modal. Tanah merupakan salah satu bagian dari basis ekonomi dalam perspektif Marx, berkaitan erat dengan konsep materialisme historis dan dialektis Karl Marx. Menurut Marx, basis ekonomi (termasuk tanah) menentukan struktur sosial dan...

Mentalitas Yang Terkonstruk di Era Kapitalisme Digital

Gambar
Secara tidak langsung kapitalisme digital dapat dikatakan sebagai tahap lanjut dari modus produksi kapitalisme modern yang paling aktual, yang rupanya saling memengaruhi dan menyesuaikan dengan minat manusia, terhadap budaya yang memiliki esensi universalitas turut berkembang seiring zaman. Kemudahan komunikasi dan penyebaran informasi secara cepat pada hari ini menjadi sumber komoditas yang paling mutakhir bagi kapitalisme, sementara manusia yang menjadi mangsa pasar produk-produk sarana digital seperti ponsel pintar dengan segala muatan di dalamnya, jika kita tidak bijak dalam menggunakannya samahalnya dapat di ibaratkan seperti menggenggam sebuah geranat, dimana kita sadar bahwa kapan saja mampu menimbulkan kerusakan terhadap diri kita jika tidak berhati-hati dan mawas diri. Sebagai sarana yang memudahkan, sekaligus kita mampu dilalaikan oleh akses yang serba instan dan tersediakan. Kapitalisme modern sebagai kontradiksi pokok sejak awal abad-19 memang tidak pernah gagal menciptakan...

Komidi Putar

Gambar
Aku tengah berjalan santai ketika matahari senja memberi kesan pada langit menjelang malam. Di gang kecil yang bising, di depan warung penjual tuak aku mencari botol sisa minumku semalam. Sementara meja dan kursi yang tak teratur menjadi tempat duduk para pemabuk setiap malam hingga pagi buta. Tanpa sengaja kepalaku terbentur meja ketika menunduk—membuatku tersentak. Ketika aku bangkit sembari memegang bagian belakang kepalaku yang terasa nyeri, seseorang telah berada di hadapanku, dia si penjaga warung tuak ini. Si penjaga warung tuak bukanlah kawanku, namun kita saling akrab karena sekiranya dalam dua hari sekali aku datang ke sini. Dia menyapaku dengan wajah menyeringai, terlihat lingkaran hitam di sekitar matanya yang mengerikan, menandakan dia jarang tidur malam. “Apa yang kau cari?” “Minumanku semalam!” “Aku buanglah sudah.” Katanya. “Oalah, baik.” Jawabku. Kemudian aku melanjutkan berjalan dengan santai, ke arah alun-alun—aku baru mengingat malam ini adalah Sabtu malam...